Reshuffle Kabinet: Membaca Arah Baru Pemerintahan Prabowo–Gibran

\nOleh: Yakub F. Ismail\n\n\n\nPresiden Prabowo Subianto baru saja melakukan perombakan kabinet setelah hampir setahun (11 bulan) masa pemerintahan.\n\n\n\nPerombakan kabinet di era pemerintahan Prabowo-Gibran...

Reshuffle Kabinet: Membaca Arah Baru Pemerintahan Prabowo–Gibran
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Urgensi Reshuffle

\n\n\n\n

Perombakan kabinet yang dilakukan Prabowo dalam beberapa hari terakhir, termasuk keputusan menggantikan Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan Purbaya Yudhi Sadewa, sontak mengejutkan publik.

\n\n\n\n

Bagaimana tidak, Sri Mulyani yang selama ini dikenal sangat piawai dalam mengurus ikhwal ekonomi dan keuangan negara tiba-tiba digantikan dengan sosok baru yang secara reputasi masih banyak yang belum mengenalnya.

\n\n\n\n

Kendati begitu, momentum ini menandai sebuah langkah strategis yang sarat makna politik dan ekonomi.

\n\n\n\n

Sudah lazim diketahui bahwa dalam tradisi politik Indonesia, reshuffle kerap dipandang sebagai instrumen korektif untuk menyelaraskan dinamika internal maupun eksternal pemerintahan untuk merespons situasi yang sedang berkembang.

\n\n\n\n

Namun, dalam konteks pemerintahan Prabowo–Gibran, reshuffle kali ini lebih tepatnya dilakukan untuk kebutuhan rotasi teknis: upaya konsolidasi arah kebijakan ekonomi dan politik menuju visi besar yang telah dicanangkan sejak awal.

\n\n\n\n

Dengan demikian, urgensi reshuffle kali ini dapat dimaknai melalui beberapa perspektif. Pertama, tantangan ekonomi nasional maupun global yang masih penuh ketidakpastian.

\n\n\n\n

Kondisi ini menuntut perlunya koordinasi fiskal yang lebih fleksibel, cepat, tepat dan mampu mengantisipasi risiko eksternal.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: