Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono

\nOleh: Yakub F. Ismail\n\n\n\nAwal tahun 2026 menjadi fase yang tidak mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Bukan karena minimnya perencanaan atau lemahnya kapasitas sang nakhoda, melainkan tantangan kompl...

Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Sementara, dalam konteks penanganan banjir, Pramono juga menunjukkan keseriusannya melalui penguatan strategi kombinasi antara solusi struktural dan nonstruktural.

\n\n\n\n

Kebijakan normalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pengerukan waduk dan sungai, sampai dengan penguatan sistem peringatan dini menjadi agenda krusial yang selalu ditekankan di berbagai kesempatan.

\n\n\n\n

Tidak berhenti di situ, Pramono juga mendorong kerja sama lintas wilayah sebagai prasyarat utama menyelesaikan masalah banjir di Jakarta.

\n\n\n\n

Menurutnya, masalah banjir di Jakarta sangat kompleks, sehingga tidak bisa ditangani melalui pendekatan tunggal dan pasrial. Masalah banjir Jakarta sangat berkaitan erat dengan kawasan hulu dan daerah penyangga. Sinergi dan kolaborasi antarwilayah, karenanya, merupakan kunci utama keberhasilan.

\n\n\n\n

Pada aspek pelayanan publik dan birokrasi, Pramono tiada henti mendorong digitalisasi layanan, penyederhanaan perizinan, hingga penegakan disiplin aparatur.

\n\n\n\n

Sejumlah inovasi administratif lahir dari kerja keras dan dedikasinya yang tak kenal lelah. Ia terus mengarahkan jajarannya untuk memangkas prosedur birokrasi yang berbelit dan meningkatkan transparansi, terutama dari sisi layanan kependudukan dan perizinan usaha.

\n\n\n\n

Seluruh capaian dan arah kebijakan yang diambil tersebut tentu menjadi modal penting dalam mengawali pemerintahannya di tahun 2026 ini.

\n\n\n\n

Dengan keuatan fondasi kebijakan yang telah dipersiapkan satu tahun pertama, Pramono dngan satu keyakinan penuh siap menghadapi tantangan di awal 2026 dengan kesiapsiagaan yang lebih terukur.

\n\n\n\n

Menyongsong 50 Dekade Jakarta

\n\n\n\n

Membahas Jakarta tidak bisa melepaskan dari perjalanan panjang sejarah yang penuh liku. Dari masa Batavia, sebagai kota kolonial yang dibangun VOC pada abad ke-17, Jakarta lahir sebagai kepentingan dagang dan kekuasaan.

\n\n\n\n

Struktur dan tata kota dirancang dengan tujuan melayani kolonialisme, meninggalkan warisan ketimpangan dan persoalan tata ruang yang jejaknya masih bisa disaksikan dan dirasakan sampai sekarang.

\n\n\n\n

Lalu, pada masa setelah kemerdekaan, transformasi mulai dilakukan, dimulai dari mengganti nama Batavia menjadi Jakarta sebagai wujud mencitakan identitas baru yang selaras-senafas dengan peradaban bangsa.

\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, kota ini mulai tumbuh menjadi pusat pemerintahan negara, ekonomi, hingga menjelma sebagai simpul kebudayaan dan identitas nasional.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: