Guru Besar UIN: Kesaktian Pancasila Ada pada Daya Hidupnya

\nSetiap 1 Oktober tiba, bangsa Indonesia kembali menundukkan kepala mengenang sejarah kelam 1965. Namun, Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar ritual mengenang tragedi. Leb...

Guru Besar UIN: Kesaktian Pancasila Ada pada Daya Hidupnya
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

“Sila-sila Pancasila bukan hanya teks, tapi pedoman etika politik, ekonomi, dan hukum. Di sinilah ujian kesaktiannya, mampukah ia menuntun keputusan publik agar berpihak pada rakyat dan keadilan,” tambahnya.

\n\n\n\n

Menjaga Pancasila dari Bahaya Apatisme

\n\n\n\n

Bagi Tholabi, yang juga pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN), ancaman terbesar terhadap Pancasila bukan lagi kudeta ideologis seperti 1965, melainkan apatisme ideologis.
“Bahaya hari ini adalah sikap masa bodoh. Banyak orang tidak menolak Pancasila, tapi juga tidak menghidupkannya. Padahal, negara bisa rapuh bukan hanya karena serangan dari luar, tapi juga karena kelalaian dari dalam,” tegasnya.

\n\n\n\n

Ia menekankan pentingnya membangun generasi baru yang tidak hanya hafal lima sila, tetapi menghayatinya dalam tindakan. “Jika sila keadilan sosial benar-benar dijadikan dasar kebijakan ekonomi, tidak akan ada ketimpangan sebesar sekarang,” katanya.
Karena itu, pelembagaan Pancasila harus dimulai sejak pendidikan dasar hingga kebijakan nasional. “Pancasila harus turun ke bumi, tidak berhenti di langit wacana,” ujarnya.

\n\n\n\n

Refleksi 1 Oktober: Dari Trauma ke Tanggung Jawab

\n\n\n\n

Enam puluh tahun lebih sejak peristiwa 1965, bangsa Indonesia telah berubah. Namun nilai-nilai yang melahirkan republik ini tetap sama: persatuan, kemanusiaan, dan keadilan. Pancasila, kata Tholabi, adalah living ideology, yakni ideologi yang hidup karena terus diperjuangkan.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: