KONI Tangsel Bekali Atlet Berwirausaha, Pengalaman Candra Wijaya Jadi Titah Nyata

\nBerkaca pada pengalaman yang sudah-sudah, banyak atlet usai menggantungkan bajunya alias pensiun dari lapangan, hidupnya banyak yang tidak mujur. Ini kemudian yang mengg...

KONI Tangsel Bekali Atlet Berwirausaha, Pengalaman Candra Wijaya Jadi Titah Nyata
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

\"Untuk menjadi profesional harus melalui tahapan yang membutuhkan waktu. Saya orang yang militan dan profesional untuk bangsa dan negara. Makanya saya ajarkan kepada para atlet jika ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak harus melalui proses yang sulit,\" ujarnya di hadapan para atlet Tangsel.

\n\n\n\n

Juara Olimpiade 2000 ini, menuturkan setiap mendengar lagu Indonesia Raya dirinya selalu menahan tangis. Betapa cintanya pada Tanah Air Republik Indonesia. Sehingga selepas pensiun dari atlet, membuat hall bulutangkis megah dan berstandar. Tuturnya, itu hanya semata-mata ingin berkontribusi bagi bangsa tercinta. Jika dihitung keuntungan dari usaha ini, tak seberapa. Bahkan menurutnya yang ada tekor. Karena besarnya biaya perawatan seperti kebersihan, listrik, pajak dan lain sebagainya kadang tidak cukup untuk menutupi operasional.

\n\n\n\n

“Namun patut berbangga hall bulutangkis salah satu terbaik di Indonesia ada di Tangsel dengan karpet Yonex berstandar internasional dengan sponsor utama Daihatsu lengkap dengan fasilitas sembilan lapangan. Sekalipun prosesnya berdarah-darah, bahkan saat proses tender gonta ganti beberapa kali,” tambahnya pria kelahiran 1975.

\n\n\n\n
\"\"
Seminar-Para narasumber Workshop Penumbuhan Wirausaha Baru Atlet Kota Tangsel, Gatot Sukartono (tiga dari kiri), Candra Wijaya (empat dari kiri) dan Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo (empat dari kanan) di dampingi Ketua Umum KONI Tangsel Letkol (Purn) Hamka Handaru (tiga dari kanan) dan Sekretaris KONI Tangsel D.Nugroho (dua dari kanan)
\n\n\n\n

Ia mengisahkan, ada banyak atlet senior yang dulunya peraih juara, namun takdir berkata lain,  hidup di pinggiran kota. Meski saat masih aktif mereka dapat bersaing hidup di tengah perkotaan. Ini fakta yang tidak dapat dipinggirkan. Makanya wajar jika banyak atlet pindah ke luar negeri.

\n\n\n\n

“Hidup di tengah kota akhirnya tidak bisa bayar PBB dan pindah ke pinggiran,” ia menceritakan dengan prihatin.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: