Membaca Luka di Balik Ledakan SMAN 72: Saatnya Kita Serius Menjaga Kesehatan Mental Remaja dan Keamanan Sekolah

\nOleh: Diana Mutiah\n\n\n\nPeristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta menyentak banyak pihak. Kejadian yang tidak pernah kita bayangkan terjadi di lingkungan sekolah ini menegaskan satu hal: ruang pendidikan ya...

Membaca Luka di Balik Ledakan SMAN 72: Saatnya Kita Serius Menjaga Kesehatan Mental Remaja dan Keamanan Sekolah
Bacakan Artikel
\n

Diana Mutiah

\n\n\n\n

Peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta menyentak banyak pihak. Kejadian yang tidak pernah kita bayangkan terjadi di lingkungan sekolah ini menegaskan satu hal: ruang pendidikan yang seharusnya aman bagi remaja kini menghadapi ancaman baru. Bukan hanya soal perangkat berbahaya, tetapi soal kesehatan mental, dinamika sosial, dan dampak budaya digital yang belum sepenuhnya kita pahami.

\n\n\n\n

Dua narasi muncul dari pemberitaan: dugaan paparan kelompok berbasis kekerasan dan kemungkinan pengalaman bullying. Meski semua masih menunggu pembuktian, keduanya sudah cukup menunjukkan bahwa persoalan remaja hari ini jauh lebih kompleks. Ini bukan semata kasus individu, tetapi potret kegagalan sistem dalam mengenali sinyal bahaya yang muncul dari waktu ke waktu.

\n\n\n\n

Remaja dan Kerentanan yang Sering Tak Terlihat

\n\n\n\n

Psikolog G. Stanley Hall menyebut masa remaja sebagai fase “storm and stress”—masa penuh badai emosional, pencarian identitas, lonjakan hormon, dan kebutuhan kuat untuk diterima kelompok. Meski teori itu lahir lebih dari seabad lalu, relevansinya tetap terasa hari ini.

\n\n\n\n

Data dunia menguatkan gambaran tersebut. Sekitar 20 persen remaja mengalami gangguan emosional signifikan, tetapi hanya sebagian kecil yang mendapat bantuan profesional. Di Indonesia, Riskesdas mencatat hampir 10 persen remaja mengalami gangguan mental emosional, dan kemungkinan angkanya lebih tinggi karena stigma membuat mereka memilih diam. Dalam kondisi labil seperti ini, remaja mudah terseret dua risiko besar: bullying dan paparan konten kekerasan.

\n\n\n\n

Bullying: Luka yang Tidak Menghilang begitu Saja

\n\n\n\n

Bullying sering kali dianggap masalah kecil, padahal dampaknya bisa panjang. WHO menyebut satu dari tiga remaja dunia pernah mengalaminya. Luka psikologisnya tidak terlihat, tetapi menggerogoti rasa aman dan harga diri.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: