Portal Berita Terpercaya - harianrakyat.id
https://mail.harianrakyat.id/menu-ompreng-mbg-deni-pramuji-bikin-siswa-lahap-dapur-lain-tak-dilirik
Rilis: Jumat, 18 September 2026

Menu Ompreng MBG Deni Pramuji Bikin Siswa Lahap, Dapur Lain Tak Dilirik

SPPG Bogor Kemang Tegal milik Deni Pramuji mampu mempertahankan kepercayaan siswa dan guru melalui menu MBG yang beragam, bahan baku berkualitas, makanan segar, serta distribusi tepat waktu. SDN 4 Tegal bahkan memilih tetap menggunakan dapur tersebut meski sempat diarahkan berpindah ke SPPG lain.

Menu Ompreng MBG Deni Pramuji Bikin Siswa Lahap, Dapur Lain Tak Dilirik
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, BOGOR — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak selalu berjalan mulus. Di sejumlah tempat, menu dan kualitas layanan bahkan menjadi alasan penerima manfaat mengeluh atau menolak.


Namun, cerita berbeda datang dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Kemang Tegal, Kabupaten Bogor.


Pagi itu, Jumat (18/9/2026), aktivitas di dapur MBG milik Deni Pramuji di RT 001/RW 03, Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, bagi masyarakat umum terlihat sangat sibuk. Padahal aktivitas seperti itu dilakoni sejak setahun terkahir. 

Bukan sekadar mengejar target ribuan porsi. Ada perhatian pada rasa, kualitas bahan, variasi menu hingga ketepatan waktu makanan tiba di sekolah.
Hasilnya mulai terasa. Siswa dan guru yang menjadi penerima manfaat justru gandrung dengan sajian dapur tersebut.

Setiap hari, dapur ini mampu memproduksi sekitar 2.700 porsi makanan siap santap. Menu tidak melulu ayam. Daging, telur, sayuran dan buah juga masuk dalam komposisi sajian.

Bagi Deni, makanan bergizi tidak cukup hanya memenuhi standar. Makanan juga harus enak dan layak dinikmati anak-anak.

Sebab, makanan yang bagus tetapi tidak disentuh siswa tentu kehilangan makna dari program MBG itu sendiri.

“Bahan baku kalau memang datang jelek, kita wajib tolak,” tegas Deni.


Prinsip itu menjadi salah satu pegangan dapurnya. Bahan baku diperiksa sejak datang sebelum masuk ke proses produksi.


Menurut Deni, menjadi mitra pemerintah dalam program MBG bukan semata-mata perkara bisnis. Keuntungan memang harus diperoleh sesuai aturan, tetapi amanah kepada penerima manfaat tidak boleh ditinggalkan.


Di balik aktivitas menyiangi bahan, mencuci, memasak, mengemas hingga mendistribusikan makanan, ia ingin seluruh pekerja memahami bahwa pekerjaan tersebut memiliki nilai sosial.


Ada anak-anak yang menunggu makanan mereka. Ada pula harapan agar makanan yang disantap hari ini ikut menopang tumbuh kembang generasi masa depan.

“Dengan makanan bergizi maka akan terbangun pondasi bagaimana generasi ke depan. Daya kritis akan terbangun, dan akan lahir anak-anak yang hebat,” ujarnya.

Bukan Asal Masak

Satu hal yang menjadi perhatian Deni adalah waktu memasak. Ia tidak ingin makanan terlalu lama menunggu sebelum disantap. Karena itu, jadwal memasak disesuaikan dengan waktu distribusi.


Pesanan untuk pagi hari dimasak sejak dini hari. Sementara makanan yang akan dikirim menjelang siang dimasak pada pagi hari.


“Kalau permintaannya pagi, kita masak jam 12 atau jam 1 malam. Kalau permintaannya jam 11, kita masak jam 7 atau 8, sehingga masakannya masih fresh,” jelasnya.


Bagi Deni, menjaga makanan tetap segar bukan hanya soal rasa. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan pangan.


Pelayanan pun dibuat terbuka. Keluhan dari sekolah maupun penerima manfaat tidak dianggap sebagai gangguan.

“Kalau ada keluhan-keluhan, kita terbuka lebar,” katanya.


Deni juga mengapresiasi langkah Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menerima masukan dari berbagai pihak. Namun, ia mengusulkan penguatan pengawasan melalui keterlibatan konsultan.

Menurutnya, konsultan dapat melihat proses secara lebih menyeluruh, mulai dari manajemen, tenaga kerja, proses memasak hingga pemorsian.

“Seorang konsultan akan membedah dengan detail, mulai dari manajemen, staf, proses memasak hingga pemorsiannya,” ujarnya.


Ia menilai keberadaan chef saja belum cukup. Dapur juga membutuhkan Quality Assurance (QA) yang bekerja memastikan kualitas berjalan melalui sistem yang terukur.


“Chef itu membuat masakan menjadi baik, tetapi yang dibutuhkan juga QA. Konsultan ini bisa menjadi penengah,” katanya.

Menu Tak Boleh Membosankan


Kepala SPPG Bogor Kemang Tegal, Ahsan Nurfalah, mengatakan selama sekitar setahun beroperasi, pihaknya terus melakukan evaluasi menu.


Masukan sekolah menjadi salah satu bahan pertimbangan. Tidak jarang pengelola datang langsung ke sekolah atau posyandu untuk mengetahui menu yang disukai penerima manfaat.


“Terkadang kami datang ke sekolah atau posyandu untuk menanyakan masukannya. Kalau ada menu yang disukai atau diminati, kita tambah dan diperbanyak,” jelas Ahsan.


Ayam katsu, misalnya, menjadi salah satu menu yang cukup digemari.


Meski ayam masih dominan, variasi sumber protein mulai diperkuat. Dalam dua pekan terakhir, menu daging disajikan dua kali dalam dua pekan, diselingi telur.


“Dua minggu terakhir ini kita menyajikan daging dua kali, seminggu sekali. Walaupun diselingi telur. Telur maksimal dua kali dengan variasi saus,” bebernya.


SDN 4 Tegal Tak Mau Pindah Dapur
Cerita tentang kepuasan penerima manfaat juga datang dari SDN 4 Tegal.


Kepala SDN 4 Tegal, Sobariyah, mengatakan sekolahnya telah bekerja sama dengan SPPG Bogor Kemang Tegal selama sekitar satu tahun.
Selama itu, ia mengaku tidak menemukan keluhan berarti dari siswa.


“Alhamdulillah selama ini tidak ada keluhan dari siswa,” ungkapnya.


Jarak dapur yang relatif dekat dengan sekolah juga menjadi keuntungan. Makanan lebih cepat tiba sehingga kondisinya masih segar ketika diterima siswa.


Menariknya, sekolah tersebut sempat mendapat arahan untuk menggunakan dapur SPPG lain.
Namun, Sobariyah memilih bertahan.


“Saya juga pernah diarahkan untuk mengganti dapur. Terus terang kami menolak. Kami konsisten dengan yang sudah kami terima karena berdasarkan pembanding-pembanding, untuk saat ini dapur ini yang terbaik,” tegasnya.


Di tengah program MBG yang terus diperluas, kisah SPPG Bogor Kemang Tegal menunjukkan satu hal sederhana: makanan bergizi bukan hanya soal angka kecukupan gizi.

Ada rasa. Ada kualitas. Ada ketepatan waktu. Ada pengawasan. Dan yang tak kalah penting, ada kepercayaan dari mereka yang setiap hari menyantapnya. (din).