Penghujan Tak Kunjung Henti, Idul Fitri Dinanti-Nanti \'Siaga Wahai Pejabat Negeri Tugas Besar Sedang  Menanti\'

\nOleh: Yakub F. Ismail\n\n\n\nHARIANRAKYAT.ID, JAKARTA-Sebulan terakhir ini bencana alam, khususnya banjir tiada henti melanda sejumlah kawasan di  Jabodetabek dan wilayah lainnya.\n\n\n\nPemicunya sudah...

Penghujan Tak Kunjung Henti, Idul Fitri Dinanti-Nanti \'Siaga Wahai Pejabat Negeri Tugas Besar Sedang  Menanti\'
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Banjir dan Refleksivitas Diri

\n\n\n\n

Filsuf berkembangsaan Jerman, Jurgen Habermas dalam konsepnya yang terkenal dengan istilah \"reflesivitas\" menyebut dunia ini selalu dilanda ketegangan antara idealitas dan realitas.

\n\n\n\n

Manusia kerap mengharapkan cita idealitas atas dunia yang penuh materi ini. Seuatu yang ideal selalu mengandung makna kebaikan, harapan, ambisi, keinginan dan atau nilai yang diingin-capaian.

\n\n\n\n

Relasi tensionalitas antara cita dan fakta ini dimediasi oleh sebuah dieliketika kehidupan yang mengatasi pikiran ang abstrak dan materi yang kasar atau aktual.

\n\n\n\n

Terkadang hubungan idealitas dan realitas ini tidak sejalan dengan kesesuaian. Kesesuaian di sini tak lain apa yang diharapkan dengan kenyataan yang ada. Misal, yang diinginkan adalah \"A\", namun yang terjadi justru \"B\".

\n\n\n\n

Jadi rumus sederhana ini menjadi sebuah gambaran kehidupan di mana banyak doa, harapan dan cita-cita kerap terbentur oleh kenyataan yang bertolak belakang atau tidak selaras dengannya.

\n\n\n\n

Dalam medan hidup yang demikian, refleksivitas dibutuhkan. Ia merupakan sebuah kualitas diri manusia yang diperlukan saat kecemasan hadir sebagai bagian dari respons terhadap dikotomi antara fakta dan harapan (persoalan).

\n\n\n\n

Refleksivitas adalah sebuah metode untuk kembali menyelam dalam diri. Berusaha mencari sumber dari segala penyebab yang membuat sesuatu menjadi berlainan atau bertentangan dengan tujuan.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: