Dirut Agrinas Mundur: Biasa atau Sinyal Bahaya?

\nOleh: Yakub F. Ismail\n\n\n\nPublik tanah air dikejutkan oleh kabar mundurnya Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota. Fenomena ini dengan cepat memantik perbincangan publik...

Dirut Agrinas Mundur: Biasa atau Sinyal Bahaya?
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Jadi, ini tidak perlu disikapi berlebihan, apalagi sampai menyebutnya sebagai suatu fenomena struktural yang punya implikasi serius terhadap pemerintahan.

\n\n\n\n

Hemat saya, mundurnya Joao Angelo De Sousa Mota, dengan alasan yang disebut di depan (jika memang demikian situasi riilnya), sesungguhnya bukanlah indikasi tunggal dari kegagalan manajemen pemerintahan.

\n\n\n\n

Justru, dengan adanya kasus ini, menandakan pemerintahan sedang berjalan positif, sehingga ketika terjadi hal-hal yang tidak seirama dengan sistem, maka dengan sendiri akan terjadi rekoreksi (perbaikan otomatis).

\n\n\n\n

Harus diakui bahwa untuk tahap awal pemerintahan Prabowo-Gibran ini, pemerintah masih sedang berada dalam fase penataan, pemetaan masalah, konsolidasi kebijakan dan adaptasi sistem.

\n\n\n\n

Jadi, dalam periode transisi semacam ini, sangat wajar ketika yang terjadi adalah gesekan, ketidaksinkronan antara elemen, perbedaan visi, atau bentuk-bentuk ketidakharmonisan lainnya. Termasuk dalam hal ini masalah aliran anggaran dengan rencana operasional lembaga atau perusahaan yang mendapat penugasan strategis.

\n\n\n\n

Di banyak tempat, fenomena pergantian kepemimpinan di awal masa pemerintahan seringkali terjadi karena sistem sedang beradaptasi. Sehingga, dinamika internal begitu cair dan mudah berubah.

\n\n\n\n

Karena itu, publik sebaiknya membaca situasi ini dengan perspektif yang lebih rasional dan proporsional. Dalam artian, tidak semua rotasi pimpinan strategis merupakan sinyal negatif sebuah sistem. Boleh jadi, ia menunjukkan adanya mekanisme koreksi yang berjalan normal.

\n\n\n\n

Bahkan, kalau dilihat dari sisi positifnya, langkah pengunduran diri seorang pemimpin ketika merasa dirinya tidak sanggup menjalankan tugas dan kewajibannya entah karena disebabkan oleh kendala anggaran, perbedaan visi dan strategi, atau juga berbagai alasan profesional lainnya, adalah suatu bentuk tanggung jawab dan kebesaran hati yang harus diapresiasi.

\n\n\n\n

Keputusan sepert ini tentu saja jauh lebih baik daripada memaksakan diri untuk tetap bertahan tanpa kemampuan memenuhi target yang diberikan.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: