Cross-Cultural Parenting: Menyulam Nilai Timur dan Barat

\nOleh : Nisa Dwi Saputri\n\n\n\nFenomena cross-cultural parenting atau pengasuhan lintas budaya semakin terlihat dalam kehidupan keluarga Indonesia setelah pandemi COVID-19 mempercepat penggunaan ruang di...

Cross-Cultural Parenting: Menyulam Nilai Timur dan Barat
Bacakan Artikel
\n

Nisa Dwi Saputri

\n\n\n\n

Fenomena cross-cultural parenting atau pengasuhan lintas budaya semakin terlihat dalam kehidupan keluarga Indonesia setelah pandemi COVID-19 mempercepat penggunaan ruang digital sebagai sumber belajar. Orang tua muda kini berhadapan dengan berbagai nilai pengasuhan dari belahan dunia yang hadir melalui media sosial. Kondisi ini membuka peluang bagi keluarga untuk memperkaya pola asuh sekaligus menghadirkan tantangan dalam menjaga konsistensi nilai budaya lokal. Para ahli menyatakan bahwa globalisasi pengasuhan semakin menguat seiring meningkatnya literasi digital nasional (Kominfo, 2021). Oleh karena itu, pertanyaan tentang bagaimana keluarga Indonesia menyeimbangkan nilai Timur dan Barat menjadi semakin relevan untuk dikaji.

\n\n\n\n

Parenting Digital

\n\n\n\n

Perkembangan teknologi menjadikan ruang digital sebagai sumber pembelajaran utama bagi banyak orang tua Indonesia. Laporan We Are Social & Meltwater (2024) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 181 juta pengguna internet, di mana 78 persen di antaranya aktif di media sosial setiap hari. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan belajar yang cepat, dinamis, dan terbuka bagi keluarga muda. Dr. Paulina Pannen (2020) menegaskan bahwa “media sosial tidak lagi sekadar tempat berbagi foto keluarga, tetapi telah berubah menjadi ruang pendidikan informal bagi orang tua.” Dalam ruang digital itu, berbagai nilai pengasuhan lintas budaya saling bertemu tanpa batas geografis.

\n\n\n\n

Konten pengasuhan dari Eropa dan Amerika Utara menjadi rujukan favorit bagi banyak orang tua digital. Konsep seperti gentle parenting dan positive discipline populer karena mengedepankan empati dan komunikasi yang menghargai suara anak. Namun, pendekatan tersebut berasal dari masyarakat individualistik yang menempatkan otonomi anak sebagai nilai utama (Hofstede, 2011). Banyak orang tua Indonesia mengaku mendapatkan manfaat melalui contoh praktis dari video pendek yang mudah dipahami. Meski begitu, mereka menyadari bahwa penerapan konsep tersebut memerlukan adaptasi dengan dinamika keluarga lokal.

\n\n\n\n

Di sisi lain, media sosial juga menciptakan tekanan emosional yang tidak selalu disadari oleh para orang tua. Tayangan keluarga ideal dengan rumah rapi dan anak yang selalu tertib dapat membentuk standar yang tidak realistis bagi banyak keluarga. Jiang & Li (2021) menjelaskan bahwa kurasi visual media digital telah menormalisasi “ilusi pengasuhan sempurna” di ruang maya. Kondisi ini dapat memunculkan rasa tidak cukup baik pada orang tua yang merasa gagal memenuhi standar tersebut. Akibatnya, kecemasan pengasuhan meningkat terutama di kalangan milenial dan Gen Z.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: