Cross-Cultural Parenting: Menyulam Nilai Timur dan Barat

\nOleh : Nisa Dwi Saputri\n\n\n\nFenomena cross-cultural parenting atau pengasuhan lintas budaya semakin terlihat dalam kehidupan keluarga Indonesia setelah pandemi COVID-19 mempercepat penggunaan ruang di...

Cross-Cultural Parenting: Menyulam Nilai Timur dan Barat
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Selain itu, peran ayah mengalami perubahan signifikan dalam lanskap pengasuhan modern Indonesia. Laporan UNICEF (2023) menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan di Asia Tenggara meningkat dalam satu dekade terakhir. Banyak ayah kini terlibat dalam kegiatan domestik dan emosional bersama anak. Konselor keluarga, Bimo Arista, mengatakan bahwa “ayah masa kini bukan hanya pencari nafkah, melainkan pengasuh yang aktif hadir dalam tumbuh kembang anak.” Transformasi ini memperlihatkan adanya adopsi nilai kesetaraan gender dalam keluarga muda.

\n\n\n\n

Meski terjadi transformasi nilai, banyak keluarga tetap mempertahankan elemen budaya lokal yang dianggap penting. Nilai seperti sopan santun, gotong royong, dan kebersamaan keluarga masih dianggap relevan dalam membentuk karakter anak. Bornstein (2012) menegaskan bahwa budaya memiliki pengaruh besar dalam menentukan tujuan pengasuhan. Oleh sebab itu, para ahli mengingatkan agar keluarga tidak meninggalkan nilai lokal hanya karena mengikuti arus global. Nilai lokal justru dapat menjadi fondasi kuat ketika dipadukan dengan pendekatan modern.

\n\n\n\n

Ketegangan nilai tersebut pada akhirnya menjadi ruang refleksi bagi banyak orang tua muda. Banyak keluarga kini berupaya menjelaskan alasan pengasuhan modern kepada generasi yang lebih tua secara dialogis. Dwi Hartanto mencatat bahwa situasi ini merupakan bagian dari proses ketahanan budaya keluarga dalam menghadapi globalisasi. Dalam proses ini, keluarga menggabungkan nilai lama dan baru dengan tetap menjaga harmoni. Dengan cara itulah pengasuhan lintas budaya dapat berjalan secara lebih konstruktif.

\n\n\n\n

Adaptasi Budaya

\n\n\n\n

Adaptasi menjadi kunci utama ketika keluarga Indonesia mencoba menerapkan pola asuh dari budaya lain. Keluarga tidak hanya meniru praktik luar negeri, tetapi juga menyesuaikan dengan norma sosial, agama, dan nilai lokal yang telah lama dianut. Hal ini terlihat dalam perkembangan berbagai ruang digital parenting lokal yang menggabungkan nilai global dengan kearifan Indonesia. Akun @filosofimontessori, misalnya, mengadaptasi metode Montessori dengan pendekatan yang lebih selaras dengan budaya emosional Indonesia. Mereka menekankan bahwa kemandirian harus disertai pendampingan yang hangat dan konsisten.

\n\n\n\n

Akun @ruangmain.rimbakenari mempromosikan terapi bermain dan filial play untuk memperkuat hubungan orang tua–anak. Program “Cegah Bullying Bareng Bapak” menekankan perluasan peran ayah dalam pengasuhan modern. Studi American Psychological Association (2020) menunjukkan bahwa filial play therapy efektif meningkatkan kelekatan dan komunikasi keluarga. Banyak peserta kegiatan melaporkan perubahan positif dalam hubungan emosional setelah mengikuti program ini. Hal tersebut memperlihatkan bahwa adaptasi nilai global dapat berjalan dengan efektif ketika disesuaikan dengan konteks lokal.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: