Cross-Cultural Parenting: Menyulam Nilai Timur dan Barat

\nOleh : Nisa Dwi Saputri\n\n\n\nFenomena cross-cultural parenting atau pengasuhan lintas budaya semakin terlihat dalam kehidupan keluarga Indonesia setelah pandemi COVID-19 mempercepat penggunaan ruang di...

Cross-Cultural Parenting: Menyulam Nilai Timur dan Barat
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Integrasi nilai pengasuhan global juga terlihat pada akun @citaanakceria yang menggabungkan metode Montessori dengan nilai-nilai Islami. Mereka mengajarkan anak untuk mandiri sambil tetap memprioritaskan adab, rasa syukur, dan kedisiplinan spiritual. Pendekatan ini mendapatkan sambutan positif dari keluarga Muslim karena sesuai dengan keyakinan yang mereka anut. Darling & Steinberg (1993) menjelaskan bahwa nilai agama dapat membentuk kerangka tujuan pengasuhan yang kuat. Karena itu, integrasi semacam ini menjadi contoh adaptasi budaya yang relevan di Indonesia.

\n\n\n\n

Dalam dunia pendidikan, sekolah seperti @sekolahalunamontessori memberikan contoh adaptasi yang lebih struktural. Mereka menggabungkan filosofi Montessori dengan konsep pendidikan inklusif yang sesuai kebutuhan anak Indonesia. UNESCO (2023) mencatat bahwa pendidikan inklusif dapat meningkatkan keterlibatan dan kesejahteraan belajar anak secara signifikan. Sekolah dengan pendekatan inklusif menunjukkan bagaimana nilai global dapat diterapkan sambil tetap mempertimbangkan karakter sosial lokal. Upaya tersebut menciptakan lingkungan belajar yang lebih humanis dan setara.

\n\n\n\n

Adaptasi budaya juga terlihat dalam meningkatnya playdate dan kelas parenting yang diselenggarakan komunitas seperti @macanbermain. Komunitas ini menciptakan ruang aman bagi orang tua untuk bertukar pengalaman tanpa rasa takut dihakimi. Banyak orang tua mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut membantu mereka merasa lebih percaya diri dan dihargai. Boyd (2014) menegaskan bahwa ruang sosial daring dapat membentuk norma komunitas yang mendukung individu dalam menghadapi tantangan. Dengan demikian, komunitas parenting lokal dapat menjadi pilar penting dalam proses adaptasi nilai.

\n\n\n\n

Para ahli menilai bahwa adaptasi adalah bagian dari ketahanan budaya keluarga Indonesia. Dwi Hartanto menekankan bahwa nilai global harus diproses secara kritis, bukan diterapkan secara mentah. Proses penyaringan nilai membantu keluarga menentukan praktik pengasuhan yang paling sesuai dengan kebutuhan anak. Dalam situasi ini, orang tua berperan sebagai penyaring nilai yang menyatukan kekuatan budaya Timur dan Barat. Hasilnya adalah pola pengasuhan yang lebih seimbang, fleksibel, dan manusiawi.

\n\n\n\n

Penulis Adalah Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta. 

\n\n\n\n

Pilih Halaman: