Pati: Kota Kecil, Pemantik Besar

\nOleh: Abdul Hakim\n\n\n\nFenomena Pati tidak sekadar persoalan teknis perpajakan daerah, tetapi cerminan dari ketegangan struktural antara negara dan rakyat di tengah situasi ekonomi yang memburuk. Dalam...

Pati: Kota Kecil, Pemantik Besar
Bacakan Artikel
\n\n\n\n

Hal serupa terjadi di Chili (2019) ketika kenaikan tarif metro memicu gelombang protes anti-neoliberal yang berujung pada referendum konstitusi. Dalam kedua kasus ini, tekanan ekonomi menjadi katalis yang mempercepat pembentukan solidaritas sosial lintas kelas, memperluas tuntutan dari isu teknis menjadi reformasi struktural.

\n\n\n\n

Indonesia pun pernah mengalami resonansi yang mirip, misalnya pada krisis 1997–1998. Kenaikan harga akibat krisis moneter, bersamaan dengan korupsi dan kesewenang-wenangan politik, mendorong rakyat membentuk jaringan gerakan yang akhirnya mengguncang fondasi rezim Orde Baru.

\n\n\n\n

Tekanan ekonomi membuat represi negara menjadi bumerang, karena setiap upaya membungkam protes justru memperkuat rasa senasib di antara warga. Dalam konteks Pati, potensi ini mulai terlihat: aparat dan elite pusat menunjukkan kekhawatiran, sementara narasi “pajak mencekik rakyat” mulai membangun master frame yang bisa menghubungkan keresahan warga di daerah lain.

\n\n\n\n

Dari sudut pandang perubahan sosial-politik, krisis ekonomi sering kali menjadi momen “political opportunity structure” di mana kekuasaan negara mengalami kerentanan legitimasi. Tekanan dari atas—baik berupa beban fiskal maupun pembatasan partisipasi—memicu rakyat mencari jalur alternatif untuk mengekspresikan aspirasi, mulai dari protes damai hingga aksi kolektif yang lebih radikal.

\n\n\n\n

Dalam situasi ini, media sosial dan jaringan komunitas menjadi alat penghubung antar-daerah, sehingga sebuah gerakan yang bermula di Pati berpotensi menjalar menjadi gerakan nasional, seperti halnya yang terjadi di Tunisia pada 2011 ketika aksi lokal Mohamed Bouazizi memantik Arab Spring.

\n\n\n\n

Dengan demikian, Pati dapat dilihat bukan hanya sebagai kasus pajak yang salah urus, tetapi sebagai laboratorium perubahan sosial-politik di tengah krisis ekonomi.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: