\"Salah Bicara, Negara Terbakar”

\nOleh: Yuga Pratama, S.Kom., M.M., CHT.(Pengamat Sosial dan Ekonomi)Dosen Universitas Pamulang , Fakultas Ekonomi dan Bisnis\n\n\n\nLidah Pejabat menjadi Luka Rakyat Beberapa waktu terakhir, rakyat dibuat...

\"Salah Bicara, Negara Terbakar”
Bacakan Artikel
\n

Yuga Pratama, S.Kom., M.M., CHT.
(Pengamat Sosial dan Ekonomi)
Dosen Universitas Pamulang , Fakultas Ekonomi dan Bisnis

\n\n\n\n

Lidah Pejabat menjadi Luka Rakyat Beberapa waktu terakhir, rakyat dibuat kecewa dengan kabar kenaikan tunjangan DPR. Bukan hanya karena kebijakan ini terasa janggal di tengah kesulitan ekonomi, tetapi juga karena cara penyampaian para pejabat yang dinilai tidak empatik. Kata-kata yang terucap seolah mengabaikan penderitaan rakyat.

\n\n\n\n

Dalam situasi bangsa yang sedang menghadapi harga kebutuhan pokok naik, pengangguran tinggi, dan daya beli melemah, ucapan yang salah bisa menjadi percikan api. Bukan hanya menyakiti hati, tetapi juga memicu gelombang kemarahan yang sulit dikendalikan.
Komunikasi Publik yang Buruk

\n\n\n\n

Kita sering mendengar alasan klasik, tunjangan untuk menunjang kinerja. Kalimat ini mungkin dimaksudkan sebagai justifikasi, namun di telinga rakyat terasa seperti bentuk pelecehan. Bukankah buruh, pedagang, hingga sopir ojek online juga bekerja keras setiap hari tanpa tunjangan tambahan.

\n\n\n\n

Inilah yang disebut komunikasi publik yang gagal. Alih-alih menenangkan, justru menambah luka. Padahal, dalam teori komunikasi, setiap pernyataan pejabat harus melalui dua filter penting, logika dan empati. Tanpa empati, ucapan pejabat hanya terdengar sebagai arogansi.
Konsep SOCIAL dalam Komunikasi

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: